Memahami Sandbox, Game Yang Mirip Minecraft Namun Bisa Mendapatkan Kripto

Jika Anda seorang penggemar kripto, mungkin pernah mendengar tentang Sandbox. Pada bulan November, game ini menerima metaverse alfa pertamanya dan sejak itu menjadi salah satu yang paling populer di industri. Sandbox menjelaskan ini merupakan komunitas platform yang dapat memonetisasi Aset Voxel dan pengalaman bermain game di Blockchain dalam laman resminya.

Sandbox juga memiliki SAND, yang merupakan token yang dapat digunakan di seluruh ekosistem Sandbox. Token ini akan menjadi sangat penting dalam transaksi dan interaksi. SAND dibangun di atas Blockchain Ethereum, dan ada 3 juta persediaan SAND. The News Minute menggambarkan permainan sebagai menyediakan pemain dengan pengalaman virtual yang unik. Ada juga game item berbasis NFT, serta Blockchain dan DeFi.

Baca Juga : Avalanche (AVAX), Mata Uang Kripto Yang di Prediksi Bakal Menonjol Untuk Jangka Panjang

Dalam suatu ekosistem, pemain dapat membuat dan menyesuaikan avatar mereka sendiri. Mereka dapat mengakses berbagai lingkungan, game, dan hub di sekitar metaverse. Item digital yang dibuat dapat diverifikasi menggunakan NFT dan kemudian dijual di Sandbox Marketplace menggunakan token SAND.

Token SAND juga dapat diperoleh melalui bermain game dan berpartisipasi dalam acara Sandbox. Dimungkinkan juga untuk membelinya di grup kripto bursa. Sebastien Borget, Co-Founder Sandbox, mengatakan “sedang berpikir cara mempertahankan dunia metaverse dalam layanannya dari serangan perusahaan teknologi besar seperti Meta”

“Membangun metaverse terbuka yang bisa melawan apa yang disebut kompetisi, yaitu metaverse Web 2.0,” kata dia dikutip dari South China Morning Post.

Baca Juga : Kompak Naik, Segini Harga Koin Kripto Bitcoin, Ethereum Hingga Shiba Inu Per Tanggal 22 Desember 2021

Laman South China Morning Post juga mengatakan banyak penggemar kripto dan blockchain percaya teknologi merupakan musuh metaverse terdesentralisasi. Borget juga mengatakan, bahwa perusahaan besar ini memproyeksikan visi menciptakan dunia virtual yang kurang beragam.

“Kami tidak berpikir perusahaan-perusahaan itu bisa membangun sesuatu yang benar-benar menyenangkan melayani pengguna karena mereka sudah fokus pada model bisnis utama mereka, dan bagaimana memuaskan pemegang saham daripada pengguna yang punya aset